berita

Produk utama kami: silikon amino, silikon blok, silikon hidrofilik, semua emulsi silikonnya, peningkat ketahanan gosok basah, anti air (bebas fluor, karbon 6, karbon 8), bahan kimia pembersih demin (ABS, enzim, pelindung spandeks, penghilang mangan), untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi: Mandy +86 19856618619 (WhatsApp)

 

Pengantar Surfaktan

 

Surfaktan memiliki struktur molekul amfifilik: salah satu ujungnya mengandung gugus hidrofilik, yang disebut kepala hidrofilik, sementara ujung lainnya mengandung gugus hidrofobik, yang disebut ekor hidrofobik. Kepala hidrofilik memungkinkan surfaktan larut dalam air dalam bentuk monomernya.

Kelompok hidrofilik sering kali merupakan kelompok polar, yang dapat berupa gugus karboksil (-COOH), gugus asam sulfonat (-SO3H), gugus amino (-NH2), amina dan garamnya, gugus hidroksil (-OH), gugus amida, atau ikatan eter (-O-) sebagai contoh lain dari kelompok hidrofilik polar.

Kelompok hidrofobik biasanya merupakan rantai hidrokarbon non-polar, seperti rantai alkil hidrofobik (R- untuk alkil) atau gugus aromatik (Ar- untuk aril).

Surfaktan dapat dikategorikan menjadi surfaktan ionik (termasuk surfaktan kationik dan anionik), surfaktan non-ionik, surfaktan amfoterik, surfaktan campuran, dan lainnya. Dalam larutan surfaktan, ketika konsentrasi surfaktan mencapai nilai tertentu, molekul surfaktan akan membentuk berbagai agregat teratur yang dikenal sebagai misel. Proses miselisasi, atau pembentukan misel, merupakan sifat dasar yang krusial dari larutan surfaktan, karena banyak fenomena antarmuka penting yang berkaitan dengan pembentukan misel.

Konsentrasi di mana surfaktan membentuk misel dalam larutan disebut sebagai Konsentrasi Misel Kritis (CMC). Misel bukanlah struktur bulat yang tetap; melainkan, mereka menunjukkan ketidakteraturan ekstrem dan perubahan bentuk yang dinamis. Dalam kondisi tertentu, surfaktan juga dapat menunjukkan keadaan misel terbalik.

Surfaktan

Faktor-faktor yang Mempengaruhi CMC:

 

- Struktur surfaktan

- Jenis dan keberadaan aditif

- Suhu

 

Interaksi Antara Surfaktan dan Protein

 

Protein mengandung gugus non-polar, polar, dan bermuatan, dan banyak molekul amfifilik dapat berinteraksi dengan protein dengan berbagai cara. Tergantung pada kondisinya, surfaktan dapat membentuk agregat molekuler yang terorganisir dengan struktur yang berbeda, seperti misel atau misel terbalik, yang berinteraksi secara berbeda dengan protein.

Interaksi antara protein dan surfaktan (Protein-Surfaktan, PS) terutama melibatkan interaksi elektrostatik dan hidrofobik. Surfaktan ionik berinteraksi dengan protein terutama melalui gaya elektrostatik gugus polar dan interaksi hidrofobik rantai karbon alifatik, mengikat daerah polar dan hidrofobik protein, sehingga membentuk kompleks PS.

Surfaktan non-ionik terutama berinteraksi dengan protein melalui gaya hidrofobik, di mana rantai hidrofobik berinteraksi dengan daerah hidrofobik protein. Interaksi ini dapat memengaruhi struktur dan fungsi surfaktan serta protein. Oleh karena itu, jenis dan konsentrasi surfaktan, beserta konteks lingkungannya, menentukan apakah surfaktan menstabilkan atau mendestabilisasi protein, serta apakah surfaktan mendorong agregasi atau dispersi.

 

Nilai HLB Surfaktan

 

Agar surfaktan menunjukkan aktivitas antarmuka yang unik, ia harus menyeimbangkan komponen hidrofobik dan hidrofilik. HLB (Keseimbangan Hidrofil-Lipofil) adalah ukuran keseimbangan hidrofilik-lipofilik surfaktan dan berfungsi sebagai indikator sifat hidrofilik dan hidrofobik surfaktan.

Nilai HLB merupakan nilai relatif (berkisar antara 0 hingga 40). Misalnya, parafin memiliki nilai HLB 0 (tanpa komponen hidrofilik), polietilen glikol memiliki nilai HLB 20, dan SDS (natrium dodesil sulfat) yang sangat hidrofilik memiliki nilai HLB 40. Nilai HLB dapat menjadi acuan dalam memilih surfaktan. Nilai HLB yang lebih tinggi menunjukkan hidrofilisitas yang lebih baik, sementara nilai HLB yang lebih rendah menunjukkan hidrofilisitas yang lebih buruk.


Waktu posting: 10-Sep-2024